Air Terjun Peucari di Pedalaman Jantho

shares

Air Terjun Peucari, Janthoe, Aceh Besar. Photo by @fitri_thaib
Wisataceh.com - Di belantara Jantho, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, terdapat air terjun yang masih jarang terjamah, yakni Air Terjun Peucari. Keindahan alam di belantara Jantho ini perpaduan antara air terjun berair jernih, udara sekitar segar, dan naungan pepohonan rimbun yang hijau.

Air Terjun Peucari terletak di tengah hutan Jantho, berjarak sekitar 60 kilometer atau 1 jam perjalanan menggunakan mobil ke arah selatan dari Banda Aceh. Lokasi itu dapat dijangkau dengan menggunakan kendaraan pribadi. Kendaraan umum hanya melayani rute dari Banda Aceh ke pusat kota Jantho.

Dari pusat kota, pengunjung masih harus menempuh perjalanan sekitar 10 kilometer ke Gampong (Kampung) Bueng, Kecamatan Jantho, yang menjadi pintu masuk ke lokasi air terjun. Tidak ada kendaraan umum yang melayani rute dari pusat kota Jantho ke Bueng.

Sebelum menuju ke Air Terjun Peucari, pengunjung harus melapor terlebih dahulu kepada kelompok pemuda setempat. Lokasi air terjun di dalam hutan dan jauh dari perkampungan membuat warga setempat mewajibkan pengunjung harus didampingi pemuda setempat.

Itu dilakukan untuk mengantisipasi agar pengunjung tidak tersesat atau terjadi perbuatan yang tidak diinginkan. Pengunjung pun wajib membayar Rp 200.000 per kelompok (maksimal 10 orang) kepada pendamping per kunjungan.

Nantinya, pengunjung harus berjalan kaki selama 2 jam melalui jalur sekitar 5 kilometer dari Gampong Beung ke dalam hutan. Banyak pengalaman yang bisa dirasakan pengunjung selama perjalanan menuju air terjun itu. Pengunjung dapat merasakan pengalaman melawan arus Sungai (Krueng) Jantho.

Ketika berjalan menyusuri sungai melawan arus, tubuh terasa rileks karena kaki merasakan kombinasi dinginnya air yang jernih, tarikan arus, dan tekstur batu-batu koral.

Pengunjung pun dapat merasakan pengalaman menyusuri hutan Jantho. Hutan ini bagian dari kawasan lindung. Pengunjung dapat pula merasakan tenteramnya berada di bawah pohon-pohon rimbun nan hijau dan tenangnya mendengar suara burung bernyanyi di antara ranting pepohonan.

Setelah menguras energi berjalan kaki melewati delapan alur sungai dan ribuan pohon, pengunjung tiba di satu tanjakan. Lelah menghantui ketika akan melalui tanjakan itu. Namun, di balik tanjakan, Air Terjun Peucari sudah menanti.

Setelah sekitar 50 meter melewati tanjakan, tibalah pengunjung di hadapan air terjun. Suara gemercik menjadi penanda awal bahwa pengunjung sudah tiba di lokasi air terjun tersebut. Menoleh ke kanan, pengunjung pun akan melihat air terjun yang bertingkat-tingkat. Itulah Air Terjun Peucari yang dicari.
Tujuh tingkatan

Air Terjun Peucari merupakan kumpulan air terjun yang teruntai indah menjadi satu. Total ada tujuh tingkatan air terjun dari puncak hingga telaga terakhir. Masing-masing air terjun memiliki ketinggian antara 1 meter hingga 2 meter. Dari kejauhan, air terjun itu tampak seperti tangga alam.

Setiap air terjun memiliki telaga berair hijau kebiruan di bawahnya. Telaga itu memiliki kedalaman antara setengah meter dan 1,5 meter. Air di telaga itu bersih dan segar.

Banyak pengunjung yang berendam dan membiarkan tubuhnya dihantam air yang jatuh. Namun, pengunjung tidak bisa berenang karena lebar telaga hanya sekitar 1,5 meter.

Selain bermain air, sebagian pengunjung tidak menyia-nyiakan kesempatan mengambil foto dengan latar belakang air terjun tersebut. Semuanya terbuai oleh berfoto ria di tengah suasana alam. Namun, pengunjung tetap berhati-hati ketika mengambil foto karena kondisi bebatuan air terjun itu licin.

Pengunjung asal Banda Aceh, Khalis Surry (21), mengatakan, dibutuhkan kehati-hatian dan fisik yang kuat untuk ke Air Terjun Peucari. Jalan yang dilewati sungai bebatuan licin, beberapa tanjakan, dan turunan terjal. Namun, bagi pengunjung, hal itu justru membuat perjalanan lebih menantang dan tidak membosankan.

”Perjalanan selama 2 jam yang melelahkan pun terbayar seketika saat terdengar suara gemercik air terjun. Pesona Peucari pun sangat memanjakan mata,” ujarnya ketika ditemui di air terjun itu, Minggu (6/3/2016).

Populer

Air Terjun Peucari merupakan obyek wisata yang sedang populer di Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar beberapa bulan terakhir. Berawal dari foto Air Terjun Peucari yang dipasang mahasiswa pencinta alam di Facebook, popularitas air terjun itu kian meluas di sosial media lain, seperti Instagram, dan Twitter.

Muda-mudi Banda Aceh dan Aceh Besar, baik yang gemar bertualang maupun sekadar jalan-jalan, silih berganti mendatangi air terjun setiap hari libur atau akhir pekan.

Menurut pemandu, sekaligus warga Gampong Beung, Rendi (21), Air Terjun Peucari sudah lama ditemukan warga gampong yang mencari madu hutan. Namun, izin orangtua kampung agar air terjun dibuka bagi masyarakat umum baru ada setahun ini.

”Setelah dibuka untuk umum, jumlah kunjungan ke air terjun ini terus meningkat. Pada hari biasa atau tengah pekan, jumlah pengunjung 20-30 orang per hari. Kalau hari libur atau akhir pekan, jumlah pengunjung 50-100 orang per hari. Hal ini memberikan efek positif. Uang guide itu menjadi tambahan pemasukan untuk pemuda setempat dan pembangunan gampong,” ucap Rendi.
Kebersihan

Pengunjung asal Banda Aceh lain, Maulidawati (26), berharap warga kampung bisa terus menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan di sekitar Air Terjun Peucari. Saat ini, sudah ada beberapa sampah menghiasi kawasan itu. Jika dibiarkan, lama-lama tempat itu bisa kotor dan tak menarik lagi.

”Air Terjun Peucari diminati karena keasriannya. Jika sudah kotor, orang-orang tidak akan berminat ke sini lagi,” katanya.

Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh Muhammad Nur menyatakan, Air Terjun Peucari merupakan bagian dari aliran Krueng Jantho yang menjadi sumber mata air utama Aceh Besar, Banda Aceh, dan Pidie. Untuk itu, wajib bagi warga menjaga kawasan tersebut.

”Dengan menjaga kawasan itu, sumber mata air bersih warga tetap terjaga. Di sisi lain, warga bisa mendapatkan keuntungan ekonomi karena bisa menjual daerahnya untuk pariwisata,” kata Muhammad Nur. (sumber : Andrian Fajriansyah/kompas.com) 

Related Posts